0

Ceramah Agama 4

Posted by Unknown on 23.33


Syukur Menambah Nikmat

Allah menegaskan dalam salah satu ayat-Nya “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat. (Al Quran, Ibrahim, 14:7)”. Ilmuwan meneliti peran sikap bersyukur atau berterima kasih. Bersyukur, selain menyehatkan jiwa-raga,  juga mendorong terjalin dan terbinanya persahabatan antar manusia. 
Sikap berterima kasih atau bersyukur mendorong terjalin dan terbinanya persahabatan antar manusia. Inilah kesimpulan S.B. Alqoe dkk. asal University of Virginia, Amerika Serikat (AS). Hasil penelitiannya dimuat di jurnal ilmiah Emotion, edisi Juni 2008 dengan judul “Beyond reciprocity: gratitude and relationships in everyday life” (Lebih dari sekedar hubungan timbal balik: sikap bersyukur dan persahabatan dalam hidup keseharian).
Dalam karya ilmiah itu para ilmuwan meneliti peran sikap bersyukur atau berterima kasih yang muncul secara alamiah dalam perkumpulan mahasiswa di perguruan tinggi selama acara “pekan pemberian hadiah” dari anggota lama kepada anggota baru. Para anggota baru mencatat tanggapan atas manfaat yang mereka dapatkan selama pekan tersebut.
Di akhir pekan itu, dan satu bulan kemudian, anggota lama dan anggota baru menilai keadaan persahabatan dan hubungan di antara mereka. Kesimpulannya, rasa terima kasih atas pemberian hadiah berpeluang memicu terbentuknya dan terpeliharanya persahabatan di antara mereka.

Aneka manfaat syukur
Selain jalinan persahabatan yang baik, sikap bersyukur kini terbukti secara ilmiah memicu pula aneka manfaat lain. Di antaranya manfaat kesehatan jasmani, ruhani dan kehidupan bermasyarakat yang lebih baik. Tidak heran jika “gratitude research” atau “penelitian tentang sikap bersyukur” menjadi salah satu bidang yang banyak diteliti ilmuwan abad ke-21 ini.
Profesor psikologi asal University of California, Davis, AS, Robert Emmons, sekaligus pakar terkemuka di bidang penelitian “sikap bersyukur”, telah memperlihatkan bahwa dengan setiap hari mencatat rasa syukur atas kebaikan yang diterima, orang menjadi lebih teratur berolah raga, lebih sedikit mengeluhkan gejala penyakit, dan merasa secara keseluruhan hidupnya lebih baik.
Dibandingkan dengan mereka yang suka berkeluh kesah setiap hari, orang yang mencatat daftar alasan yang membuat mereka berterima kasih juga merasa bersikap lebih menyayangi, memaafkan, gembira, bersemangat dan berpengharapan baik mengenai masa depan mereka. Di samping itu, keluarga dan rekan mereka melaporkan bahwa kalangan yang bersyukur tersebut tampak lebih bahagia dan lebih menyenangkan ketika bergaul.

Tak tersentuh sebelumnya
Dulu, sikap bersyukur atau berterima kasih sama sekali tidak terjamah dalam kajian ilmuwan psikologi tatkala profesor Emmons mulai mengkajinya di tahun 1998. Penelitian pertama prof Emmons melibatkan para mahasiswa kuliah psikologi kesehatan di universitasnya.
Saat itu sang profesor mewajibkan sebagian dari para mahasiswa tersebut untuk menuliskan lima hal yang menjadikan mereka bersyukur setiap hari. Sedangkan mahasiswa selebihnya diminta mencatat lima hal yang menjadikan mereka berkeluh kesah. Tiga pekan kemudian, mahasiswa yang bersyukur memberitahukan adanya peningkatan dalam hal kesehatan jiwa-raga dan semakin membaiknya hubungan kemasyarakatan dibandingkan rekan mereka yang suka menggerutu.
Di tahun-tahun berikutnya, profesor Emmons melakukan aneka penelitian yang melibatkan beragam kondisi manusia, termasuk pasien penerima organ cangkok, orang dewasa yang menderita penyakit otot-saraf dan murid kelas lima SD yang sehat. Di semua kelompok manusia ini, hasilnya sama: orang yang memiliki catatan harian tentang ungkapan rasa syukurnya mengalami perbaikan kualitas hidupnya.

Dampak latihan bersyukur
Melalui latihan, perasaan bersyukur dapat dibiasakan dalam diri seseorang. Pelatihan sengaja untuk menanamkan rasa syukur ini ternyata membawa dampak positif dalam beragam sisi kehidupan.
Dalam penelitian menggunakan metoda membandingkan, ditemukan bahwa mereka yang menuliskan rasa syukurnya setiap pekan mendapatkan manfaat jasmani-ruhani yang lebih baik dibandingkan mereka yang terbiasa mencatat peristiwa menjengkelkan dan kejadian yang biasa-biasa saja. Di antara manfaat ini adalah olah raga yang lebih teratur, lebih sedikit mengeluhkan gejala penyakit badan, merasa hidupnya secara keseluruhan lebih baik, dan berpengharapan lebih baik di minggu mendatang.
Manfaat lain sikap berterima kasih tampak pada keberhasilan dalam mewujudkan cita-cita. Dibandingkan dengan orang-orang yang bersikap sebaliknya, mereka yang senantiasa memiliki daftar ungkapan rasa syukur lebih cenderung mengalami kemajuan dalam pencapaian cita-cita mereka. Cita-cita ini dapat berupa prestasi akademis, hubungan antar-sesama dan kondisi kesehatan.
Penelitian lain dilakukan dengan melatih pembiasaan sikap bersyukur setiap hari pada diri sendiri. Kondisi positif seperti: waspada, bersemangat, tabah, penuh perhatian, dan daya hidup pada orang muda dewasa meningkat akibat pembiasaan sikap bersyukur. Perbaikan kondisi sebaik ini tidak dijumpai pada orang yang dilatih bersikap menggerutu atau pada orang yang menganggap dirinya lebih sejahtera dibanding orang lain.
Selain itu, mereka yang memiliki rasa syukur setiap hari lebih memiliki jiwa sosial yang lebih baik dibandingkan mereka yang suka berkeluh kesah dan suka menganggap orang lain kurang beruntung. Golongan yang pertama tersebut cenderung menolong seseorang yang memiliki masalah pribadi, atau telah membantu dukungan semangat kepada orang lain.
Pasien pun tak luput dari penelitian seputar sikap bersyukur ini. Dengan melibatkan sejumlah orang dewasa pengidap penyakit otot-saraf, pelatihan membiasakan sikap bersyukur berdampak baik pada pasien tersebut. Di antaranya adalah kualitas dan lama tidur yang lebih baik, lebih optimis dalam menilai kehidupan, lebih eratnya perasaan persahabatan dengan orang lain, serta suasana hati tenteram yang lebih sering dibandingkan dengan mereka yang tidak dilatih bersikap syukur.

Ketika syukur menjadi kebiasaan
Insan yang bersyukur menyatakan diri mereka merasakan tingginya perasaan positif, kepuasan hidup, semangat hidup, dan pengharapan baik di masa depan. Mereka juga mengalami kemurungan dan tekanan batin dengan kadar rendah.
Kalangan yang memiliki kebiasaan kuat dalam bersyukur atau berterima kasih memiliki kemampuan menyelami jiwa orang lain dan mengambil sudut pandang orang lain. Mereka ditengarai lebih dermawan dan lebih ringan tangan oleh orang-orang di jalinan persahabatan mereka.
Terdapat pula kaitan antara kerohanian seseorang dengan sikap bersyukur. Kecenderungan bersyukur lebih banyak dilakukan mereka yang secara teratur menghadiri acara keagamaan dan terlibat dalam kegiatan keagamaan seperti berdoa atau sembahyang dengan membaca bacaan relijius berkali-kali. Kaum yang bersyukur lebih cenderung mengakui keyakinan akan keterkaitan seluruh kehidupan, serta rasa ikatan dan tanggung jawab terhadap orang lain.
Pribadi-pribadi yang bersyukur dilaporkan memiliki sifat materialistis yang rendah. Mereka tidak begitu menaruh perhatian penting pada hal-hal yang bersifat materi. Mereka cenderung tidak menilai keberhasilan atau keberuntungan diri mereka sendiri dan orang lain dari jumlah harta benda yang mereka kumpulkan.
Dibandingkan dengan kaum yang kurang berterima kasih, kalangan yang bersyukur cenderung bukan berwatak pendengki terhadap kaum kaya, dan bersikap mudah memberikan apa yang mereka punya kepada orang lain.

Nikmat bertambah
Profesor Emmons menuangkan hasil-hasil temuan ilmiahnya itu dalam buku terkenalnya “Thanks! How the New Science of Gratitude Can Make You Happier” (Terima kasih! Bagaimana Ilmu Baru tentang Bersyukur Dapat Menjadikan Anda Lebih Bahagia) yang terbit tahun lalu. Buku ini memaparkan pula 10 kiat untuk menanamkan rasa syukur sepanjang tahun demi mendapatkan nikmat karunia yang bermanfaat dalam kehidupan.
Temuan ilmiah tentang syukur ini mengukuhkan risalah ilahiah bahwa syukur adalah akhlak mulia yang mesti ada dalam diri manusia. Sebab, syukur memicu bertambah nikmat hidup seseorang:
Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat. (Al Quran, Ibrahim, 14:7).

Sumber :
Hari/Tanggal : 22 Juli 2013
Penceramah : Bp Daman Huri
Tempat : Musholla Al Huda


0

Ceramah Agama 3

Posted by Unknown on 23.30

 

Berimankah Kita ?


“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (QS Al-Baqarah [2] : 183)”.

Sudah menjadi tradisi, bahwa ketika kita memasuki bulan Ramadhan, maka ayat yang paling sering kita dengar adalah surat Al-Baqoroh ayat 183 di atas. Persoalan berikutnya, apakah ayat di atas sudah benar-benar kita hayati maknanya, sehingga hakikat puasa yang diperintahkan Alloh sang Pencipta semesta ini mampu memberikan makna bagi kehidupan kita?
Dari ayat di atas terlihat sangat jelas, bahwa Alloh menyatakan puasa itu hanya wajib bagi orang yang beriman. Di akhir ayat, Alloh SWT menyatakan bahwa hasil yang digapai pasca melaksanakan puasa ramadhan adalah status ideal seorang yang beriman, yakni taqwa. Insya Alloh hakikat ketaqwaan akan kita kupas di kesempatan berikutnya.

Dalam sebuah hadits Rasululloh SAW telah bersabda: “Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya melainkan hanya rasa lapar dan dahaga.” (HR. Ath Thobroniy). Hadits ini semakin mudah kita hayati manakala bulan Ramadhan sudah memasuki pertengahan dan akhir menjelang bulan Syawwal. Betapa ketika awal bulan, semua masjid begitu makmur dan penuh sesak dengan jamaah untuk mendirikan sholat Isya dan Tarawikh. Begitu juga saat tadarus al-Qur’an. Bahkan saat sholat Shubuh, jamaah pun sangat berbeda dari 11 bulan sebelumnya. Apakah ini yang dimaksud Rasululloh SAW dalam hadits di atas? Dan mengapa hal ini bisa terjadi?
Jawaban atas pertanyaan di atas adalah, ayat 183 surat al-Baqoroh di atas. Alloh SWT hanya memerintahkan puasa selama bulan Ramadhan hanyalah kepada orang-orang yang beriman. Kalau orang sudah benar-benar beriman, maka amalan selama bulan Ramadhan serasa tidak beda beratnya dengan bulan-bulan sebelumnya dan pada bulan-bulan sesudahnya, kualitas amalan seorang yang beriman menjadi sangat meningkat.

Manusia adalah makhluk yang selalu diserang Iblis dari berbagai sudut, maka kualitas iman akan menjadi fluktuatif. Suatu saat kualitas iman tinggi; saat lain rendah. moment bulan Ramadhan adalah wahana untuk menjadikan kualitas iman stabil, dan nilai atau hikmah puasa berbekas di bulan selanjutnya. Namun, sekali lagi dengan satu syarat bagi orang yang beriman.

CIRI ORANG BERIMAN
Tersebut dalam surat Al-Anfaal ayat 2 – 4, setidaknya ada 5 ciri utama orang beriman itu, masing adalah :
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal”. (yaitu) orang-orang yang mendirikan sholat dan yang menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka.
Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezki (nikmat) yang mulia. (QS. Al-Anfaal [8] :2-4)

Dari ayat di atas, maka ciri utama orang beriman adalah pertama, bila disebut asma ‘Alloh’, maka hati mereka tergetar. Maksud orang beriman pada ayat ini adalah orang yang sempurna imannya. Dan yang dimaksud dengan disebut nama Allah yakni disebut sifat-sifat yang mengagungkan dan memuliakannya.
Selama bulan Ramadhan, bila terdengar oleh telinga kita, adzan berkumandang, maka hati ini mestinya bergetar dan kaki kita segera melangkah mengambil air wudlu lalu bersegera mendirikan sholat. Namun bila adzan hanya melintas telingan kanan menuju kiri dan lepas tanpa bekas, maka hakikatnya kita belum beriman. Idealnya, ketika adzan berkumandang, semua aktifitas kita hentikan dan beralih menuju ritual paling sakral yakni berkomunikasi dengan Alloh Sang Pencipta kita. Selama Ramadhan, kita akan lebih sering mendengar lantunan ayat suci Al-Qur’an, juga banyak kajian yang di dalamnya dibacakan ayat-ayat Alloh. Media baik cetak maupun elektronik secara khusus mengemas acara khusus untuk memeberi warna pada bulan Ramadhan ini. Semuanya ingin memberi warna agar asma Alloh menjadi semakin mudah terdengar di telinga para mukminin.

Pengalaman di lapangan, sering terbalik. Ketika mendengar adzan-panggilan Alloh SWT, hati ini serasa biasa saja dan tidak ada respon dari anggota badan kita. Namun ketika mendengar panggilan atasan, maka seluruh tenaga kita kerahkan untuk memenuhi perintahnya. Semoga moment Ramadhan mengingatkan kita agar kita berpuasa untuk meningkatkan kualitas iman, dengan hati senantiasa bergetar saat asma Alloh disebut.
Kedua, istiqomah mendirikan sholat. Dalam Al-Qur’an Alloh SWT telah memerintahkan kita untuk sholat 5 waktu: ”Dirikanlah sholat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula sholat) subuh. Sesungguhnya sholat subuh itu disaksikan (oleh malaikat).” (QS. Al-Israa’[17]:78]
Orang beriman adalah paling rajin mendirikan sholat yang lima waktu dan ditambah dengan sholat sunnah lainya. Ketika bulan Ramadhan, orang beriman akan lebih rajin termasuk ketika mendirikan sholat Tarawikh. Orang beriman sadar bahwa mendirikan sholat adalah kebutuhan yang harus ia penuhi agar tidak ada yang hilang dalam hidup ini. Dampak dari amalan sholat adalah bisa mencegah perbuatan keji dan munkar:
Bila hanya selama Ramadhan kita rajin sholat, dan selepas Ramadhan kembali biasa saja bahkan meninggalkan sholat tidak merasa berdosa, maka kita sebenarnya belum beriman dengan sempurna. Dan bila belum sempurna iman kita, maka kita berpuasa hanyalah akan membuat badan ini lapar dan dahaga saja. Sebab syarat berpuasa belum kita penuhi, yakni beriman.

Orang beriman sadar dengan sepenuh hati bahwa sholat adalah sangat penting, karena dengan selalu mendirikan sholat berarti ia telah mengokohkan tiang agama. Orang yang dengan sengaja tidak mendirikan sholat, berarti dia telah meruntuhkan agamanya. “Sholat adalah tiang agama, barang siapa yang mengerjakannya berarti ia menegakkan agama, dan barang siapa meninggalkannya berarti ia meruntuhkan agama” (HR. Baihaqi). Bahkan yang lebih kontras lagi adalah, sholat juga berfungsi sebagai pembeda antara orang muslim dengan kafir. Barang siapa tidak sholat berarti dia kafir. “Batas antara seorang muslim dengan kemusyrikan dan kekufuran adalah meninggalkan sholat.” (HR. Muslim)

Orang beriman juga sangat sadar bahwa kelak amal yang pertama akan dihisab di akhirat adalah sholat. Orang yang dengan sengaja tidak mendirikan sholat, maka meskipun selama Ramadhan berpuasa sebulan penuh, orang semacam ini kelak di akhirat akan langsung dimasukkan ke dalam neraka. ”Amal yang pertama kali akan dihisab untuk seseorang hamba nanti pada hari kiamat ialah sholat, maka apabila sholatnya baik (lengkap), maka baiklah seluruh amalnya yang lain, dan jika sholatnya itu rusak (kurang lengkap) maka rusaklah segala amalan yang lain (Thabrani)

Orang yang beriman sadar bahwa penyebab orang akan disikasa di neraka Saqar adalah karena selama hidupnya tidak mendirikan sholat kelak akan disiksa di neraka. “Apakah yang memasukkan kalian ke dalam neraka Saqar?” Mereka menjawab, “Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan sholat….” (QS. Al-Muddatstsir[74]: 42-43)
Ketiga, apabila dibacakan ayat-ayat Alloh bertambahlah kualitas imannya. Ayat Alloh yang tertulis barangkali mudah membuat hati sedikit tersentuh dan menjadikan kadar keimanan naik kualitasnya. Namun, yang jauh lebih banyak dan senantiasa kita lihat dan dengarkan adalah ayat-ayat-Nya yang justru tidak tertulis di dalam kitab suci Al-Quran, yakni ayat atau tanda-tanda kebesaran Alloh yang tersebar di seantera jagat ini. Pernahkah kita menyadari, bahwa selama ini kita belum pernah melihat Matahari? Kita menganggap bahwa setiap pagi hingga sore saat udara cerah kita bisa melihat sang Surya itu dengan mata kita… Sungguh, kita telah tertipu. Kita selama ini hanyalah melihat sejarah Matahari, karena Matahari yang sebenarnya adalah Matahari yang kita saksikan sekitar 8,3 menit silam. Bintang Al-Nilan yang kita saksikan malam-malam ini, sebenarnya adalah sejarah Al-Nilal yangtelah dipancarkan pada zaman Khalifah Utsman bin Affan. Dengan melihat kemudian mengkaji dan menghayati ayat-ayat-Nya di semesta ini, sungguh iman kita bisa bertambah kualitasnya.

Keempat, bertawakkal kepada Alloh, kapan dan dimana pun. Orang beriman tidak akan berpangku tangan menunggu keajaiban dari langit. Hidupnya selalu dinamis dan proaktif serta optimis dalam kondisi seperti apapun, karena Alloh SWT adalah Dzat tempat mengembalikan semua persoalan hidup. Dan ciri utama orang yang pandai bertawakkal adalah selalu bersyukur atas nikmat yang diberikan oleh Alloh SWT.
Kelima, menafkahkan sebagian harta. Ciri ini melekat dalam diri orang yang beriman dan membawa kerberkahan bagi ummat di sekelilingnya. Salah satu bukti kalau seseorang beriman, maka tetangganya akan mendapatkan manfaat dari keberadaannya. Dengan rajin sedekah, berarti orang beriman telah menjadi salah satu unsur rohmatan lil’alamin sebagaimana fungsi diturunkannya Rasululloh SAW.
Rasullulloh SAW adalah teladan terbaik bagi kita, beliau adalah orang yang paling dermawan, dan kedermawanan beliau lebih dahsyat lagi di bulan Ramadhan. Hal ini diceritakan oleh Ibnu Abbas radhiallahu’anhuma:
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling dermawan. Dan beliau lebih dermawan lagi di bulan Ramadhan saat beliau bertemu Jibril. Jibril menemuinya setiap malam untuk mengajarkan Al Qur’an. Dan kedermawanan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melebihi angin yang berhembus.” (HR. Bukhari, no.6)

Namun bulan Ramadhan merupakan momen yang spesial sehingga beliau lebih dermawan lagi. Bahkan dalam hadits, kedermawanan Rasululloh SAW dikatakan melebihi angin yang berhembus. Diibaratkan demikian karena Rasululloh SAW sangat ringan dan cepat dalam memberi, tanpa banyak berpikir, sebagaimana angin yang berhembus cepat. Dalam hadits juga angin diberi sifat ‘mursalah’ (berhembus), mengisyaratkan kedermawanan Rasululloh SAW memiliki nilai manfaat yang besar, bukan asal memberi, serta terus-menerus sebagaimana angin yang baik dan bermanfaat adalah angin yang berhembus terus-menerus. Penjelasan ini disampaikan oleh Ibnu Hajar Al Asqalani dalam Fathul Baari.
Oleh karena itu, orang yang beriman dan mengaku meneladani beliau sudah selayaknya memiliki semangat yang sama. Semangat untuk bersedekah lebih sering, lebih banyak dan lebih bermanfaat di bulan Ramadhan, melebihi bulan-bulan lainnya.
Pertanyaan terakhir, apakah kita layak menjalankan puasa? Tergantung dari keimanan kita, tergantung pada 5 ciri di atas pada diri kita…..[]
 Sumber :
Hari/Tanggal : 21 Juli 2013
Penceramah : Bp Tauchid
Tempat : Musholla Al Huda

0

Ceramah Agama 2

Posted by Unknown on 23.22



Lailatul Qodr

Selama bulan Ramadhan ini terdapat satu malam yang sangat berkah, yang populer disebut sebagai Lailatul Qodr, “malam yang lebih berharga dari seribu bulan“, (QS. Al-Qodr : 1-5). “Rasulullah SAW tidak pernah melewatkan kesempatan untuk meraih Lailatul Qodr terutama pada malam-malam ganjil pada 10 hari terakhir bulan puasa“, (HR. Bukhori Muslim ).

Dalam hal ini Rasulullah menyampaikan bahwa :
Barangsiapa yang sholat pada malam lailatul qodr berdasarkan iman dan ihtisab, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu. ” (Hr. Bukhori Muslim).
Mengapa semalam bernilai setara dengan seribu bulan?
Ummat terdahulu memiliki rata-rata usia yang cukup panjang, ada yang mencapai usia 1000 tahun bahkan ada yang lebih. Sebagian ulama mengatakan bahwa ummat dahulu ada yang belum mencapai usia baligh (cukup umur) hingga usia 80 tahun. Sebuah riwayat menjelaskan bahwa ada seorang yang meninggal di usia sekitar 200-an tahun, maka serentak banyak makhluk yang merasa simpati terhadapnya, karena ia telah meninggal dalam usia yang muda.

Juga diriwayatkan bahwa nabi Ibrohhim a.s berkhitan ketika usia beliau mencapai 80 tahun, ketika Allah memerintahkan untuk melakukannya. Diriwayatkan bahwa imam Al-Mahdi berusia panjang. Sampai saat ini beliau telah berusia 1164 tahun. Ummat terdahulu juga telah dipanjangkan umurnya seperti nabi Nuh ‘alaihissalam yang berusia lebih dari 1000 tahun; Luqman bin Ka’ab 400 tahun; ‘Abdulmasih bin Baqlah Al-Ghasani lebih dari 350 tahun; dan Ash-habul Kahfi yang hidup di dalam gua selama 309 tahun.
Rasululah SAW ketika merasakan bahwa usia ummatnya terlalu pendek bila dibandingkan dengan usia ummat sebelumnya, beliaupun memohon kepada Allah SWT, mengadukan tentang pendeknya usia ummat islam sehingga tidak cukup waktu bagi mereka untuk meperbanyak ketaatan kepada-Nya, serta untuk menambah amalan bagi akhiratnya. Dari do’a nabi SAW inilah lalu Allah SWT menganugerahkan kepada nabi dan ummat islam suatu malam yang disebut Lailatul Qodr, yang nilai kebaikannya setara dengan 1000 bulan.
Semalam setara seribu bulan karena pada malam itu turun para malaikat dan ruh dari terbenamnya matahari sampai terbitnya fajar atau kira-kira 10 jam di sekitar khatulistiwa tahun ini. Semalam setara seribu bulan, artinya 1 malam = 1000 bulan = 30.000 malam = 300.000 jam = 18.000.000 menit = 1.080.000.000 detik, atau 1 malam = 83 tahun 4 bulan.
Allah menjelaskan, para malaikat dan ruh (ditafsirkan Jibril) akan turun ke bumi menuju ke alam kasar semenjak terbenam matahari hingga terbit fajar (shadiq).
Perpindahan malaikat dari alam malakut (dimensi cahaya) menuju ke alam nasut (dimensi partikel) tidak setiap saat dapat terjadi, karena untuk berpindah dimensi, malaikat berarti melintasi cermin CP (C=charge conjugation, penolakan muatan dan P=parity, keseimbangan) dan meperlambat kecepatannya (kecepatan cahaya) mendekati kecepatan partikel. Ini sama dengan pengerahan energi secara kontinyu yang kalau tidak sesuai prosedur (SOP) yang telah ditentukan oleh Allah, maka fatal jadinya (bisa meledak, karena energy-overload).

Malaikat diciptakan oleh Allah dari nur atau cahaya. Malaikat adalah makhluk patuh, sehingga tidak mungkin akan mengganggu makhluk lain. Ia terbentuk dari cahaya yang sudah keluar dari bintang, sehingga memiliki sifat yang lebih dingin daripada setan yang tercipta dari netrino panas di pusat bintang. Cahaya merambat dengan kecepatan 300.000 km/s yang artinya sama dengan kecepatan putaran medan skalar alam raya.
Kecepatan cahaya (300.000 km/s) adalah waktu mutlak, ia adalah ruang bulat dan bukan lonjong. Bila benda bergerak dengan kecepatan cahaya, yang artinya sama dengan kecepatan putaran ruang atau waktu mutlak, maka benda itu akan membekukan waktu mutlak, sehingga ia akan terlepas dari perhitungan waktu.
Tidak jadi soal, berapapun luas atau jauh jarak yang ditempuh benda itu, atau berapa kali dia mengelilingi alam raya, sepanjang bergerak dalam kecepatan itu ia tidak akan terkena hitungan waktu.

Waktu 1 detik bagi benda diperlebar tanpa batas, sehingga sepanjang bergerak dalam kecepatan itu ia akan kekal. Artinya, bila kita mampu bergerak dalam kecepatan cahaya, berapa kali pun keliling alam raya, perjalanan yang kita alami tidak akan memakan waktu 1 detik. Ini adalah ukuran waktu bagi dimensi waktu atau dimensi lembut. Pada dimensi ini tidak ada waktu “tadi” atau “nanti”. Kata ” tadi” atau “nanti” hanya berlaku pada dimensi-dimensi waktu nisbi, yang pusingan/kecepatannya kurang dari 300.000 km/s. Bagi benda di alam kasar yang tidak bergerak, usia alam raya sekarang 15 milyar (menurut hitungan tetatapan kosmis lambda) atau ½ menit menurut hitungan dimensi waktu. (Majalah ETOS)

Tidak semua malaikat dapat menjelma ke dimensi kasar. Malaikat yang mampu menembus dimensi manusia adalah sekelompok malaikat yang cerdas dan kuat (seperti Jibril), dan ia hanya akan tinggal sebentar karena untuk muncul di dimensi kasar memerlukan energi pengerem kecepatan. Dan sekali lagi ini hanya dapat dilakukan oleh malaikat yang memiliki kesadaran-atas-potensi sangat tinggi alias cerdas.
Inilah rahasia, mengapa peristiwa isra’ wal mi’raj terjadi pada malam seperti halnya malam Lailatul Qodr pada bulan suci ramadhan ini. Waktu malam sengaja Allah istimewakan bagi hamba-hamba yang ingin lebih bertaqarrub kepada-Nya, di saat semua makhluk sedang terlelap istirahat. Waktu malam adalah saat di mana cahaya matahari tidak bersinar, sehingga manusia tidak akan mampu melihat apapun kecuali dengan mata hati/bathinnya. Waktu malam hari inilah saat bagi hamba Allah yang khusyu’ untuk mengoptimalkan potensi ruhaninya hingga mampu berkelana ke ufuk alam semesta dan menembus alam lain -mendekat kepada Allah sedekat-dekatnya…

Sekarang akan kita hitung usia seorang mukmin yang dikaruniakan Allah Lailatul Qodr. Kita ambil contoh, bila si Fulan telah berusia 30 tahun, ia telah menjalankan ibadah ramadhan semenjak usia 15 tahun berarti ia telah menjumpai Lailatul Qodr sebanyak 15 kali. Selanjutnya bila selama 15 tahun itu dikaruniakan Lailatul Qodr oleh Allah 12 kali saja (yang 3 tahun selebihnya bolong-bolong), maka saat ini si Fulan tadi tidak lagi berusia 30 tahun, akan tetapi telah bertambah mengikuti persamaan Lailatul Qodr sebagai berikut:

U = Ui + (n x 83,3)
dengan:
U = usia hamba yang mendapatkan Lailatul Qodr (tahun) ~ usia ruhani
Ui = usia hamba mula-mula (tahun) ~ usia jasmani
n = orde Lailatul Qodr (tanpa satuan)
83,3 = 83 tahun sisa 4 bulan (4 bulan=1/3 tahun)
Jadi usia Fulan saat ini adalah:
U = 30 + (12 x 83 tahun + 12 x 4 bulan)
= 30 tahun + ( 996 tahun + 48 bulan)
= 30 tahun + ( 996 tahun + 4 tahun)
= 30 tahun + 1000 tahun
U = 1030 tahun
atau 1.030 tahun (inilah usia ruhani orang bertaqwa yg mendapat lailatul qodr)

Sungguh usia yang fantastis untuk ukuran saat ini. Manusia tertua di planet bumi ini tidak lebih dari 200 tahun, sementara si Fulan telah 1000 tahun lebih.
Dan dengan analogi demikian, usia (ruhani) hamba yang taat kepada Allah bisa dipastikan sudah mencapai ribuan tahun, meski secara jasmani usianya baru 30 tahun; karena dari perhitungan sederhana ini, semakin sering kita mendapatkan Lailatul Qodr, maka usia-U kita akan semakin meningkat menjadi usia-Ui dengan kelipatan 83 tahun 4 bulan.

Berapakah usia-Ui anda Sekarang? Berapa usia-U anda selepas ramadhan 1432 H ini?
Jawabnya adalah mengetahui terlebih dahulu, berapa orde Lailatul Qodr kita. Orde Lailatul Qodr didapat dengan melihat dua faktor berikut:
1) istiqomah menjalankan amalan-ramadhan secara imaniah-ihtisaabiah.
2) amalan-ramadhan membekas dengan meningkatnya amalan-ibadah selama 11 bulan pasca ramadhan.

Ketahuilah bahwa panjang umur dan penuh dengan ketaatan kepada Allah adalah sesuai sabda Rasululah,
Sebaik-baik kamu adalah orang yang panjang umurnya dan baik pula amalannya” (HR. Tirmidzi)
Semoga Allah karuniakan Lailatul Qodr kepada kita tahun ini. Amien…19x

Sumber :
Hari/Tanggal : 25 Juli 2013
Penceramah : Bp. Daman Huri
Tempat : Musholla Al Huda



0

Ceramah Agama Islam 1

Posted by Unknown on 23.18

Nasehat Untuk Kaum Muslimin

Menyambut Bulan Ramadhan


  
Sesungguhnya aku menasehatkan kepada saudaraku-saudaraku kaum muslimin di mana pun berada terkait dengan masuknya bulan Ramadhan yang penuh barakah tahun 1413 H ini [1] dengan taqwa kepada Allah ‘Azza wa Jalla, berlomba-lomba dalam seluruh bentuk kebaikan, saling menasehati dengan al haq, dan bersabar atasnya, at-ta’awun (saling membantu) di atas kebaikan dan taqwa, serta waspada dari semua perkara yang diharamkan Allah dan dari segala bentuk kemaksiatan di manapun berada. Terlebih lagi pada bulan Ramadhan yang mulia ini, karena ia adalah bulan yang agung. Amalan-amalan shalih pada bulan itu dilipatgandakan (pahalanya), dosa dan kesalahan akan terampuni bagi siapa saja yang berpuasa dan mendirikannya (dengan amalan-amalan kebajikan) dengan penuh keimanan dan rasa harap (akan keutamaan dari-Nya), berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ.
“Barangsiapa yang berpuasa pada bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan rasa harap, maka akan diampunilah dosa-dosanya yang telah lalu. (HR. Al Bukhari 2014 dan Muslim 760)

Dan sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam
إِذَا دَخَلَ رَمَضَانُ فُتِحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ جَهَنَّمَ، وَسُلْسِلَتِ الشَّيَاطِيْنُ.
Jika telah masuk bulan Ramadhan, pintu-pintu Al Jannah akan dibuka, pintu-pintu Jahannam akan ditutup, dan para syaitan akan dibelenggu. (HR. Al Bukhari 1899 dan Muslim 1079)

Dan sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam :
الصِّيَامُ جُنَّةٌ ، فَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلاَ يَرْفُثْ وَلاَ يَجْهَلْ ، فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ : إِنِّيْ صَائِمٌ.

puasa itu adalah perisai, jika kalian sedang berpuasa, maka janganlah mengucapkan ucapan kotor, dan jangan pula bertindak bodoh, jika ada seseorang yang mencelanya atau mengganggunya, hendaklah mengucapkan: sesungguhnya aku sedang berpuasa. (HR. Al Bukhari 1904)

Dan sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam
يَقُوْلُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ، الْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا، إِلاَّ الصِّيَامَ فَإِنَّهُ لِيْ وَأَنَا أَجْزِيْ بِهِ، تَرَكَ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ وَشَرَابَهُ مِنْ أَجْلِيْ، لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ، فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ، وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ، وَلَخُلُوْفُ فَمِ الصَّائِمِ عِنْدَ اللهِ أَطْيَبُ مِنْ رِيْحِ الْمِسْكِ.
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: Semua amalan anak Adam untuknya, setiap satu kebaikan akan dibalas dengan sepuluh kali lipatnya, kecuali puasa, sesungguhnya ia untuk-Ku, Aku yang akan membalasnya. Karena seorang yang berpuasa telah meninggalkan syahwat, makan, dan minumnya karena Aku. Bagi seorang yang berpuasa akan mendapatkan dua kegembiraan: gembira ketika berbuka, dan gembira ketika berjumpa dengan Rabbnya. Sungguh bau mulut seorang yang berpuasa itu di sisi Allah lebih wangi daripada minyak wangi misk. (HR. Al Bukhari 1904 dan Muslim 1151)

Dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan kabar gembira kepada para shahabatnya dengan masuknya bulan Ramadhan. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda kepada mereka:
Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan yang penuh barakah. Allah menurunkan padanya rahmah, menghapus kesalahan-kesalahan, mengabulkan do’a, dan Allah membanggakan kalian di hadapan para malaikat-Nya, maka perlihatkanlah kepada Allah kebaikan dari diri-diri kalian, sesungguhnya orang yang celaka adalah orang yang diharamkan padanya rahmat Allah. (Dalam Majma’ Az-Zawa`id Al-Haitsami menyebutkan bahwa hadits ini diriwayatkan oleh Ath-Thabarani dalam Al-Kabir)

Dan beliau ‘Alaihish Shalatu Wassalam bersabda:
Barangsiapa yang tidak meninggalkan ucapan yang haram dan mengamalkannya, ataupun bertindak bodoh, maka Allah tidak butuh dengan upaya dia dalam meninggalkan makan dan minumnya. (HR Al Bukhari dalam Shahihnya).

Hadits-hadits tentang keutamaan bulan Ramadhan dan dorongan untuk memperbanyak amalan di dalamnya sangatlah banyak.
Maka aku juga mewasiatkan kepada saudara-saudaraku kaum muslimin untuk istiqmah pada siang dan malam-malam bulan Ramadhan dan berlomba-lomba dalam segala bentuk amalan kebaikan, di antaranya adalah memperbanyak qira’ah (membaca) Al Qur’anul Karim disertai dengan tadabbur (upaya mengkajinya) dan ta’aqqul (upaya memahaminya), memperbanyak tasbih, tahmid, tahlil, takbir, dan istighfar, serta memohon kepada Allah Al Jannah, berlindung kepada-Nya dari An Nar, dan do’a-do’a kebaikan yang lainnya.
Sebagaimana aku wasiatkan juga kepada saudara-saudaraku untuk memperbanyak shadaqah, membantu para fakir miskin, peduli untuk mengeluarkan zakat dan menyalurkannya kepada yang berhak menerimanya, disertai juga dengan kepedulian untuk berdakwah ke jalan Allah subhanahu, memberikan pengajaran kepada orang jahil, dan melakukan amar ma’ruf nahi mungkar dengan cara yang lembut, hikmah, dan metode yang baik, disertai juga dengan sikap hati-hati dari segala bentuk kejelekan, dan senantiasa bertaubat dan istiqmah di atas al-haq dalam rangka mengamalkan firman-Nya subhanahu:
وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. (An Nur: 31)

Dan firman-Nya ‘Azza wa Jalla :
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ . أُولَئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ خَالِدِينَ فِيهَا جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: Rabb kami adalah Allah, kemudian mereka tetap istioqamah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada pula berduka cita. Mereka itulah penghuni-penghuni Al Jannah, mereka kekal di dalamnya, sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan. (Al Ahqaf: 13-14)

Mudah-mudahan Allah memberikan taufiq bagi semuanya kepada perkara-perkara yang diridhai-Nya, dan mudah-mudahan Allah melindungi semuanya dari kesesatan (yang disebabkan) fitnah dan gangguan-gangguan setan. Sesungguhnya Dia Maha Dermawan lagi Maha Mulia.


Sumber :
Hari/Tanggal : 20 Juli 2013
Penceramah : Bp Muksin
Tempat : Musholla Al Huda


Copyright © 2009 Nay Azizah's Blog All rights reserved. Theme by Laptop Geek . | Bloggerized by FalconHive .