0
Ceramah Agama 3
Posted by
Unknown
on
23.30
Berimankah Kita ?
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa
sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”
(QS Al-Baqarah [2] : 183)”.
Sudah menjadi tradisi, bahwa ketika kita memasuki bulan Ramadhan,
maka ayat yang paling sering kita dengar adalah surat Al-Baqoroh ayat
183 di atas. Persoalan berikutnya, apakah ayat di atas sudah benar-benar
kita hayati maknanya, sehingga hakikat puasa yang diperintahkan Alloh
sang Pencipta semesta ini mampu memberikan makna bagi kehidupan kita?
Dari ayat di atas terlihat sangat jelas, bahwa Alloh menyatakan puasa
itu hanya wajib bagi orang yang beriman. Di akhir ayat, Alloh SWT
menyatakan bahwa hasil yang digapai pasca melaksanakan puasa ramadhan
adalah status ideal seorang yang beriman, yakni taqwa. Insya Alloh
hakikat ketaqwaan akan kita kupas di kesempatan berikutnya.
Dalam sebuah hadits Rasululloh SAW telah bersabda: “Betapa banyak
orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya melainkan
hanya rasa lapar dan dahaga.” (HR. Ath Thobroniy). Hadits ini semakin
mudah kita hayati manakala bulan Ramadhan sudah memasuki pertengahan dan
akhir menjelang bulan Syawwal. Betapa ketika awal bulan, semua masjid
begitu makmur dan penuh sesak dengan jamaah untuk mendirikan sholat Isya
dan Tarawikh. Begitu juga saat tadarus al-Qur’an. Bahkan saat sholat
Shubuh, jamaah pun sangat berbeda dari 11 bulan sebelumnya. Apakah ini
yang dimaksud Rasululloh SAW dalam hadits di atas? Dan mengapa hal ini
bisa terjadi?
Jawaban atas pertanyaan di atas adalah, ayat 183 surat al-Baqoroh di
atas. Alloh SWT hanya memerintahkan puasa selama bulan Ramadhan hanyalah
kepada orang-orang yang beriman. Kalau orang sudah benar-benar beriman,
maka amalan selama bulan Ramadhan serasa tidak beda beratnya dengan
bulan-bulan sebelumnya dan pada bulan-bulan sesudahnya, kualitas amalan
seorang yang beriman menjadi sangat meningkat.
Manusia adalah makhluk yang selalu diserang Iblis dari berbagai
sudut, maka kualitas iman akan menjadi fluktuatif. Suatu saat kualitas
iman tinggi; saat lain rendah. moment bulan Ramadhan adalah wahana untuk
menjadikan kualitas iman stabil, dan nilai atau hikmah puasa berbekas
di bulan selanjutnya. Namun, sekali lagi dengan satu syarat bagi orang
yang beriman.
CIRI ORANG BERIMAN
Tersebut dalam surat Al-Anfaal ayat 2 – 4, setidaknya ada 5 ciri utama orang beriman itu, masing adalah :
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut
nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya
bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka
bertawakkal”. (yaitu) orang-orang yang mendirikan sholat dan yang
menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka.
Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. mereka akan
memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan
serta rezki (nikmat) yang mulia. (QS. Al-Anfaal [8] :2-4)
Dari ayat di atas, maka ciri utama orang beriman adalah pertama, bila
disebut asma ‘Alloh’, maka hati mereka tergetar. Maksud orang beriman
pada ayat ini adalah orang yang sempurna imannya. Dan yang dimaksud
dengan disebut nama Allah yakni disebut sifat-sifat yang mengagungkan
dan memuliakannya.
Selama bulan Ramadhan, bila terdengar oleh telinga kita, adzan
berkumandang, maka hati ini mestinya bergetar dan kaki kita segera
melangkah mengambil air wudlu lalu bersegera mendirikan sholat. Namun
bila adzan hanya melintas telingan kanan menuju kiri dan lepas tanpa
bekas, maka hakikatnya kita belum beriman. Idealnya, ketika adzan
berkumandang, semua aktifitas kita hentikan dan beralih menuju ritual
paling sakral yakni berkomunikasi dengan Alloh Sang Pencipta kita.
Selama Ramadhan, kita akan lebih sering mendengar lantunan ayat suci
Al-Qur’an, juga banyak kajian yang di dalamnya dibacakan ayat-ayat
Alloh. Media baik cetak maupun elektronik secara khusus mengemas acara
khusus untuk memeberi warna pada bulan Ramadhan ini. Semuanya ingin
memberi warna agar asma Alloh menjadi semakin mudah terdengar di telinga
para mukminin.
Pengalaman di lapangan, sering terbalik. Ketika mendengar
adzan-panggilan Alloh SWT, hati ini serasa biasa saja dan tidak ada
respon dari anggota badan kita. Namun ketika mendengar panggilan atasan,
maka seluruh tenaga kita kerahkan untuk memenuhi perintahnya. Semoga
moment Ramadhan mengingatkan kita agar kita berpuasa untuk meningkatkan
kualitas iman, dengan hati senantiasa bergetar saat asma Alloh disebut.
Kedua, istiqomah mendirikan sholat. Dalam Al-Qur’an Alloh SWT telah
memerintahkan kita untuk sholat 5 waktu: ”Dirikanlah sholat dari sesudah
matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula sholat)
subuh. Sesungguhnya sholat subuh itu disaksikan (oleh malaikat).” (QS.
Al-Israa’[17]:78]
Orang beriman adalah paling rajin mendirikan sholat yang lima waktu
dan ditambah dengan sholat sunnah lainya. Ketika bulan Ramadhan, orang
beriman akan lebih rajin termasuk ketika mendirikan sholat Tarawikh.
Orang beriman sadar bahwa mendirikan sholat adalah kebutuhan yang harus
ia penuhi agar tidak ada yang hilang dalam hidup ini. Dampak dari amalan
sholat adalah bisa mencegah perbuatan keji dan munkar:
Bila hanya selama Ramadhan kita rajin sholat, dan selepas Ramadhan
kembali biasa saja bahkan meninggalkan sholat tidak merasa berdosa, maka
kita sebenarnya belum beriman dengan sempurna. Dan bila belum sempurna
iman kita, maka kita berpuasa hanyalah akan membuat badan ini lapar dan
dahaga saja. Sebab syarat berpuasa belum kita penuhi, yakni beriman.
Orang beriman sadar dengan sepenuh hati bahwa sholat adalah sangat
penting, karena dengan selalu mendirikan sholat berarti ia telah
mengokohkan tiang agama. Orang yang dengan sengaja tidak mendirikan
sholat, berarti dia telah meruntuhkan agamanya. “Sholat adalah tiang
agama, barang siapa yang mengerjakannya berarti ia menegakkan agama, dan
barang siapa meninggalkannya berarti ia meruntuhkan agama” (HR.
Baihaqi). Bahkan yang lebih kontras lagi adalah, sholat juga berfungsi
sebagai pembeda antara orang muslim dengan kafir. Barang siapa tidak
sholat berarti dia kafir. “Batas antara seorang muslim dengan
kemusyrikan dan kekufuran adalah meninggalkan sholat.” (HR. Muslim)
Orang beriman juga sangat sadar bahwa kelak amal yang pertama akan
dihisab di akhirat adalah sholat. Orang yang dengan sengaja tidak
mendirikan sholat, maka meskipun selama Ramadhan berpuasa sebulan penuh,
orang semacam ini kelak di akhirat akan langsung dimasukkan ke dalam
neraka. ”Amal yang pertama kali akan dihisab untuk seseorang hamba nanti
pada hari kiamat ialah sholat, maka apabila sholatnya baik (lengkap),
maka baiklah seluruh amalnya yang lain, dan jika sholatnya itu rusak
(kurang lengkap) maka rusaklah segala amalan yang lain (Thabrani)
Orang yang beriman sadar bahwa penyebab orang akan disikasa di neraka
Saqar adalah karena selama hidupnya tidak mendirikan sholat kelak akan
disiksa di neraka. “Apakah yang memasukkan kalian ke dalam neraka
Saqar?” Mereka menjawab, “Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang
mengerjakan sholat….” (QS. Al-Muddatstsir[74]: 42-43)
Ketiga, apabila dibacakan ayat-ayat Alloh bertambahlah kualitas
imannya. Ayat Alloh yang tertulis barangkali mudah membuat hati sedikit
tersentuh dan menjadikan kadar keimanan naik kualitasnya. Namun, yang
jauh lebih banyak dan senantiasa kita lihat dan dengarkan adalah
ayat-ayat-Nya yang justru tidak tertulis di dalam kitab suci Al-Quran,
yakni ayat atau tanda-tanda kebesaran Alloh yang tersebar di seantera
jagat ini. Pernahkah kita menyadari, bahwa selama ini kita belum pernah
melihat Matahari? Kita menganggap bahwa setiap pagi hingga sore saat
udara cerah kita bisa melihat sang Surya itu dengan mata kita… Sungguh,
kita telah tertipu. Kita selama ini hanyalah melihat sejarah Matahari,
karena Matahari yang sebenarnya adalah Matahari yang kita saksikan
sekitar 8,3 menit silam. Bintang Al-Nilan yang kita saksikan malam-malam
ini, sebenarnya adalah sejarah Al-Nilal yangtelah dipancarkan pada
zaman Khalifah Utsman bin Affan. Dengan melihat kemudian mengkaji dan
menghayati ayat-ayat-Nya di semesta ini, sungguh iman kita bisa
bertambah kualitasnya.
Keempat, bertawakkal kepada Alloh, kapan dan dimana pun. Orang
beriman tidak akan berpangku tangan menunggu keajaiban dari langit.
Hidupnya selalu dinamis dan proaktif serta optimis dalam kondisi seperti
apapun, karena Alloh SWT adalah Dzat tempat mengembalikan semua
persoalan hidup. Dan ciri utama orang yang pandai bertawakkal adalah
selalu bersyukur atas nikmat yang diberikan oleh Alloh SWT.
Kelima, menafkahkan sebagian harta. Ciri ini melekat dalam diri orang
yang beriman dan membawa kerberkahan bagi ummat di sekelilingnya. Salah
satu bukti kalau seseorang beriman, maka tetangganya akan mendapatkan
manfaat dari keberadaannya. Dengan rajin sedekah, berarti orang beriman
telah menjadi salah satu unsur rohmatan lil’alamin sebagaimana fungsi
diturunkannya Rasululloh SAW.
Rasullulloh SAW adalah teladan terbaik bagi kita, beliau adalah orang
yang paling dermawan, dan kedermawanan beliau lebih dahsyat lagi di
bulan Ramadhan. Hal ini diceritakan oleh Ibnu Abbas radhiallahu’anhuma:
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling dermawan. Dan beliau lebih dermawan lagi di bulan Ramadhan saat beliau bertemu Jibril. Jibril menemuinya setiap malam untuk mengajarkan Al Qur’an. Dan kedermawanan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melebihi angin yang berhembus.” (HR. Bukhari, no.6)
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling dermawan. Dan beliau lebih dermawan lagi di bulan Ramadhan saat beliau bertemu Jibril. Jibril menemuinya setiap malam untuk mengajarkan Al Qur’an. Dan kedermawanan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melebihi angin yang berhembus.” (HR. Bukhari, no.6)
Namun bulan Ramadhan merupakan momen yang spesial sehingga beliau
lebih dermawan lagi. Bahkan dalam hadits, kedermawanan Rasululloh SAW
dikatakan melebihi angin yang berhembus. Diibaratkan demikian karena
Rasululloh SAW sangat ringan dan cepat dalam memberi, tanpa banyak
berpikir, sebagaimana angin yang berhembus cepat. Dalam hadits juga
angin diberi sifat ‘mursalah’ (berhembus), mengisyaratkan kedermawanan
Rasululloh SAW memiliki nilai manfaat yang besar, bukan asal memberi,
serta terus-menerus sebagaimana angin yang baik dan bermanfaat adalah
angin yang berhembus terus-menerus. Penjelasan ini disampaikan oleh Ibnu
Hajar Al Asqalani dalam Fathul Baari.
Oleh karena itu, orang yang beriman dan mengaku meneladani beliau
sudah selayaknya memiliki semangat yang sama. Semangat untuk bersedekah
lebih sering, lebih banyak dan lebih bermanfaat di bulan Ramadhan,
melebihi bulan-bulan lainnya.
Pertanyaan terakhir, apakah kita layak menjalankan puasa? Tergantung dari keimanan kita, tergantung pada 5 ciri di atas pada diri kita…..[]Sumber :
Hari/Tanggal : 21 Juli 2013
Penceramah : Bp Tauchid
Tempat : Musholla Al Huda
Posting Komentar